Oleh: Ivan Febriyanto
GRESIK, PustakaJC.co - KH. Abdullah Faqih lahir pada tahun 1921 di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Beliau adalah putra tunggal pasangan KH. Muhammad Thoyyib dan Ibu Musyrifah. Sejak kecil, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu agama.
Perjalanan keilmuan KH. Abdullah Faqih dimulai dari berguru kepada ulama-ulama terkemuka. Di antara guru-guru beliau adalah KH. Hamid Faqih (Karangbinangun, Lamongan) dan KH. Abdul Hadi Zahid (Langitan), yang mengajarkan ilmu alat (Nahwu-Shorof) serta ilmu syariah (Fiqih).
Kemudian, Beliau menimba ilmu kepada KH. Muhammad Utsman Al-Ishaqy (Surabaya) dan KH. Ahmad Sonhaji Hasbullah (Kebumen), yang membimbingnya dalam ilmu tasawuf.
Selanjutnya KH Abdullah Faqih berguru pada KH. Bisri (Tenger), yang mengajarkan ilmu ‘Arudh.
Beliau adalah sosok yang sangat menghormati dan taat kepada guru-gurunya, serta selalu menjaga hubungan baik dengan para ulama.
Setelah menyelesaikan pendidikan agamanya, KH. Abdullah Faqih mendapat amanah untuk mendirikan pesantren. Namun, beliau lebih memilih mengajar anak-anak kecil di sebuah surau kecil bernama At-Tohiriyah di Desa Suci.
Dari sinilah lahir Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, yang kini berkembang menjadi salah satu pesantren terkemuka di Indonesia, dikenal dengan pendidikan yang berbasis pada disiplin ilmu agama, bahasa dan tasawuf.
KH. Abdullah Faqih menikah dengan dua istri, yaitu Nyai Hj. Tsuwaibah dan Nyai Hj. Rohmah. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai delapan putra dan lima putri, yang banyak di antaranya menjadi penerus dakwah dan pendidikan Islam.
Bersama Nyai Hj. Tsuwaibah, beliau dikaruniai tiga putra dan dua putri, yakni KH. Masbuhin Faqih, Hj. Sulhah, KH. Asfihani Faqih (Alm.), H. Syaiful Haq, dan Hj. Faiqoh.
Selanjutnya bersama Nyai Hj. Rohmah, Beliau dikaruniai tiga putri dan lima putra, yaitu KH. Fahmi Faqih, H. Suwaifi (Alm.), H. Fanani, Bu Nyai Hj. Alfa Laila, KH. Khusnul Widad Faqih (Alm.), Hj. Murtasimah, Hj. Sa’adatul Fitriyah, dan H. Faizun Ulur Rosyad.
Selain dikenal sebagai pendidik, KH. Abdullah Faqih juga terkenal sebagai sosok yang dermawan. Dari hasil usahanya, beliau sering membeli Al-Qur’an dan kitab-kitab untuk dibagikan kepada anak-anak yang mengaji. Tidak hanya kepada santri, beliau juga sering memberikan hadiah kepada para kiai dan ulama yang ditemuinya.
Semangat KH. Abdullah Faqih dalam menuntut ilmu tidak pernah padam. Masa mudanya dihabiskan dengan belajar agama secara tekun, masa dewasanya digunakan untuk membangun usaha dan pesantren, dan di usia senja beliau lebih banyak mendalami ilmu tasawuf melalui tarekat yang dipelajarinya dari para guru mursyid.
Sebagai seorang ulama dan intelektual Islam, KH. Abdullah Faqih juga meninggalkan banyak karya dalam bentuk nadhom dan natsar. Beberapa kitab yang beliau tulis antara lain, Qolaidud Duror, Al-Kamal, Madarijul Murtaqi, Syifaul Qulub fi Madhi Syaikhina Utsman
Kitab terakhir, Syifaul Qulub, merupakan salah satu karya yang paling populer di kalangan pengamal tarekat. Kitab ini berisi biografi serta pujian terhadap mursyid beliau, KH. Utsman Al-Ishaqy, dan menjadi pedoman bagi banyak santri dalam memahami tarekat dan tasawuf.
KH. Abdullah Faqih memiliki kecintaan yang mendalam kepada para ulama dan keturunan Rasulullah. Di antara tokoh yang sangat beliau hormati adalah KH. Abdul Hamid (Pasuruan) dan Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember). Mahabbah beliau kepada para auliya dan dzurriyah Rasulullah diwariskan kepada anak-anak dan para santrinya.
KH. Abdullah Faqih wafat pada hari Jumat (malam Sabtu), 10 Januari 1997 (11 Ramadhan 1418 H) dalam usia 77 tahun. Meski telah tiada, warisan keilmuannya terus hidup melalui Pondok Pesantren Mambaus Sholihin dan para santri yang meneruskan perjuangannya.