Parlemen

Rakyat Berteriak, Partai Politik Berpaling, Siapa yang Sebenarnya Mereka Wakili?

Rakyat Berteriak, Partai Politik Berpaling, Siapa yang Sebenarnya Mereka Wakili?
Rakyat menolak, DPR mengesahkan. Demonstrasi pecah di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. (Dok instagram @daqilll)

JAKARTA, PustakaJC.co - Rakyat menolak, DPR mengesahkan. Demonstrasi pecah di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Massa mahasiswa dan elemen rakyat marah atas revisi UU TNI yang dinilai menghidupkan kembali dwifungsi ABRI ala Orde Baru. Namun, suara rakyat hanya menggema di jalanan. Di dalam gedung parlemen, wakil rakyat justru memilih diam dan patuh pada garis kebijakan partai. Kamis, (20/3/2025).

 

Pengamat politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo Jati, menilai bahwa partai politik telah kehilangan fungsinya sebagai jembatan aspirasi masyarakat. Dilansir dari nu.or.id Jumat, (28/3/2025).

 

“Secara konseptual, partai politik seharusnya menjadi mediator antara masyarakat dan pemerintah. Tapi kenyataannya, mereka lebih banyak mengakomodasi kepentingan sendiri,” ujar Wasisto

Kondisi ini membuat anggota DPR berada dalam dilema. Mereka lebih memilih mengikuti arus kebijakan partai daripada bersuara kritis demi rakyat.

 

Anggota DPR itu selalu dihadapkan pada pilihan sulit: ikut arus atau melawan arus. Namun, kenyataannya, mereka lebih sering memilih ikut arus daripada membela kepentingan publik,” lanjutnya.

 

Dampaknya, rakyat semakin jauh dari partai politik. Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Geger Riyanto, menyebut bahwa partai politik di Indonesia lebih mementingkan kekuasaan daripada ideologi yang berpihak pada rakyat.

 

“Partai politik sering kali berorientasi pragmatis, bukan ideologis. Mereka lebih peduli mempertahankan kekuasaan daripada membangun hubungan dengan rakyat,” jelas Geger.

Menurutnya, inilah yang membuat partai politik kehilangan fungsinya sebagai agen pendidikan politik bagi masyarakat.

 

“Bagi partai, rakyat hanya sekadar pemilih, bukan subjek politik yang harus dicerdaskan,” tegasnya.

 

 

Di tengah kekecewaan ini, Geger menyarankan agar rakyat terus berkonsolidasi dan bersuara.

 

“Kita tidak boleh diam. Satu-satunya cara untuk menghadapi partai yang tuli terhadap suara rakyat adalah dengan mengorganisir perlawanan lebih luas,” katanya.

 

Jika partai terus mengkhianati rakyat, rakyat harus mencari cara untuk menghukum mereka.(Ivan)

 

 

 

 

 

 

 

Baca Juga : Prabowo Pangkas Komisaris BUMN Perbankan, “Harus Ramping dan Profesional”
Bagikan :